Beranda Program Sistem Magang Gaji di Jepang Perjalanan Keunggulan FAQ Chat WhatsApp
Beranda

— sebuah surat —

Prolog

Untuk kamu
yang sedang ragu.

Jalan kecil di sawah Bali saat matahari terbenam

Surat ini datang dari masa depan. Dari seseorang yang dulu berdiri persis di tempat kamu berdiri sekarang — di Bali, dengan mimpi yang sama, dan pertanyaan yang sama: "Apakah aku benar-benar bisa bekerja di Jepang?"

Surat ini ditulis untuk menemanimu melihat seluruh perjalanannya. Bukan versi cepatnya. Bukan versi manisnya. Tapi versi jujurnya — dari hari pertama, sampai hari kamu pulang.

Scroll pelan-pelan

Hari ke-0

Bab 1

Hari ini, di rumahmu.

Rumah keluarga di Bali dengan cahaya hangat di sore hari

Perjalanan ini tidak dimulai di bandara. Perjalanan ini dimulai di sini — di rumahmu, di Jembrana, di sore yang biasa saja.

Mungkin kamu sudah lama memikirkannya. Mungkin ada teman yang sudah berangkat lebih dulu. Mungkin kamu takut ditipu — dan itu wajar. Karena memang ada tempat yang hanya memikirkan cara memberangkatkanmu, tanpa melindungimu setelah kamu berangkat.

Hari ini, kamu belum perlu memutuskan apa-apa. Kamu hanya perlu tahu jalannya. Selangkah demi selangkah, tanpa ada yang ditutup-tutupi.

Langkah pertama

Bab 2

Langkah pertama bukan membayar.
Langkah pertama adalah bercerita.

Tangan memegang HP di malam hari

Di sini, semuanya dimulai dari percakapan — lewat WhatsApp, gratis, tanpa syarat. Kamu bercerita tentang mimpimu. Kami bercerita tentang jalannya, apa adanya.

Kegelisahan tidak hanya datang di siang hari. Kadang jam dua pagi, kamu tiba-tiba tidak bisa tidur. Karena itu, kirimlah pesan kapan saja. Kami berusaha siaga sebisa mungkin, 24 jam.

Ada kalanya kami tidak bisa langsung membalas. Tapi pesanmu pasti kami baca, dan pasti kami balas. — Karena kamu datang ke sini dengan membawa hidup dan harapanmu.

"Kami tahu masalah LPK saat ini. Makanya, kami bangun dari nol dengan cara yang benar."

— I Kadek Arta Yasa, pendiri sekolah ini

Satu hal yang ingin kami sampaikan sejak awal: saat ini kami sedang dalam proses pengajuan izin LPK. Karena itu, ada pertanyaan yang belum bisa kami jawab — misalnya jumlah biaya yang pasti. Kami tidak akan menutupinya dengan jawaban yang samar. Kalau belum bisa menjawab, kami akan berkata jujur: "Belum bisa kami jawab." Karena begitulah cara kami menghargai orang yang mempercayakan hidupnya kepada kami.

Hari-hari latihan

Bab 3

Jujur saja:
ini bab yang paling panjang.

Siswa belajar di kelas dengan cahaya pagi

Bahasa Jepang. Keterampilan. Cara hidup di Jepang. Setiap hari, sedikit demi sedikit, kamu membangunnya. Awalnya menyenangkan. Tapi suatu saat, tembok itu datang. Hari ketika kamu sudah bisa membaca hiragana, tapi tidak bisa menangkap percakapan. Minggu ketika nilai ujianmu tidak naik-naik. Malam ketika kamu membandingkan dirimu dengan teman yang lebih cepat maju.

Mungkin juga ada saatnya keluargamu tidak setuju. Saat itu, kamu tidak perlu berjuang sendirian. Kalau perlu, kami akan ikut duduk dalam musyawarah keluargamu. Kekhawatiran ayah dan ibumu, akan kami jawab langsung.

Kami tidak bisa mengajarkan jalan pintas. Tapi kami bisa berjalan di sampingmu. Tembok itu ada bukan untuk sekadar dilewati — tapi untuk mengajarimu cara melewatinya.

Hari ujian

Bab 4

Ujiannya tidak mudah.

Tangan siswa menulis di kertas ujian

Ujian bahasa Jepang. Ujian keterampilan. Kalau ada yang bilang mudah, sebaiknya kamu curiga. Justru karena tidak mudah, kami memilih persiapan daripada kecepatan.

Ada yang lulus sekali coba. Ada yang harus mencoba lagi. Keduanya tidak menentukan nilai dirimu. Yang menentukan adalah berapa kali kamu bangkit.

Hari pengumuman. Perasaan saat menemukan nomormu di layar — tidak akan kami tuliskan di sini. Kami simpan, untuk kamu rasakan sendiri.

Diterima & persiapan

Bab 5

Wawancara dengan perusahaan Jepang.
Dan waktu bersama keluarga.

Keluarga makan bersama di rumah Bali

Lewat layar, kamu berhadapan dengan perusahaan Jepang. Gugup, pasti. Tapi kamu sudah bisa berbicara dengan kata-kata yang kamu persiapkan selama ini.

Setelah diterima, persiapan keberangkatan dimulai. Dokumen, pemeriksaan kesehatan, mengepak barang. — Dan persiapan yang paling penting: waktu yang tersisa bersama keluargamu. Nikmatilah masakan ibumu, lebih dalam dari biasanya.

Kalau keluargamu masih khawatir, ajaklah mereka datang ke sekolah kapan saja. Siapa yang akan mendampingimu, di mana, dan bagaimana — semuanya kami jelaskan langsung, dengan wajah yang bisa mereka lihat.

Pagi keberangkatan

Bab 6

Bandara.

Pelukan perpisahan di bandara

Satu koper. Paspor yang sudah kamu periksa berkali-kali. Di depan gerbang, kamu memeluk keluargamu. Menangis pun tidak apa-apa. Sampai di titik ini saja, itu sudah bukti.

Banyak cerita berakhir di sini. Karena kalau tujuannya hanya "memberangkatkan", di sinilah garis finisnya.

Cerita kami, tidak berakhir di sini.

Hari-hari di Jepang

Bab 7

Musim dingin pertama itu dingin.

Berjalan di kota Jepang yang bersalju

Kami tulis apa adanya: jauh lebih dingin daripada Bali. Bahasa Jepang yang kamu pelajari, awalnya sulit tertangkap di telinga. Malam hari, tiba-tiba kamu rindu suara keluargamu. Rindu rasa nasi campur.

Tapi ingatlah. Janji itu tidak hilang walau kamu sudah menyeberangi lautan.

Tengah malam pun, boleh mengirim pesan. Dari Jepang pun, boleh. Karena tugas kami tidak selesai saat kamu berangkat.

Lalu suatu hari, kamu sadar: kamu bisa ikut tertawa mendengar candaan rekan kerjamu. Kamu dengar "Arigatou, tasukatta yo" — terima kasih, kamu sangat membantu. Nyambung. — Di negeri yang dingin itu, kamu mulai berakar.

Gaji pertama

Bab 8

Malam itu, di rumahmu di Bali,
HP ibumu berbunyi.

Tangan ibu memegang HP di rumah Bali

Pemberitahuan transfer

Dana telah masuk.
"Bu, ini gaji pertamaku. Terima kasih untuk segalanya."

Bekerja dengan tanganmu sendiri, menghasilkan dengan usahamu sendiri, lalu mengirimkannya untuk keluargamu. Ini bukan soal besar kecilnya jumlah. Ini tentang malam pertama kamu menjadi sandaran bagi orang yang kamu sayangi.

Mimpimu sejak awal memang ini, kan? — Kebahagiaan keluarga. Malam itu, mimpimu bukan lagi sekadar mimpi.

Beberapa tahun kemudian

Penutup

Hari kamu pulang.

Keluarga menyambut kepulangan di rumah Bali

Ilmu yang kamu pelajari di Jepang. Tabungan yang kamu kumpulkan. Keterampilan dan mental yang sudah ditempa. Dengan semua itu, kamu pulang ke Bali. Di pintu rumah, keluargamu menunggu. Kali ini, kamu bukan yang diantar — kamu yang disambut.

Jepang bukanlah tujuan akhir. Jepang adalah bagian dari perjalanan — untuk keluargamu, dan untuk masa depanmu sendiri.

— di akhir surat ini —

Siapa yang menulis surat ini?

Sekarang kamu pasti sudah tahu. Surat ini ditulis oleh dirimu beberapa tahun dari sekarang, untuk dirimu yang hari ini sedang membacanya.

Sebagai penutup, kami titipkan kata-kata dari orang yang mendirikan sekolah ini: "Dunia ini penuh harapan. Siapa pun bisa mengejar mimpinya. Untuk menyampaikan itulah, sekolah ini saya dirikan."

Pengirim

 

Yang akan menulis nama di sini, adalah kamu.

Mulai langkah pertama: bercerita (gratis)